Kamulah yang Harus Digugat

Ada banyak saat di mana kita sudah merencanakan banyak hal, tetapi ternyata kita mendapatkan banyak hambatan. Kita pun mulai menyalahkan semuanya:
"Coba kalo aku nggak bangun kesiangan... Hey, itu gara-gara aku tidur kemaleman habis nonton TV! Coba kalo TVnya nggak nayangin tontonan yang bagus, aku pasti udah tidur lebih awal! Tapi, ngapain juga aku nonton TV? Eh, bukan aku yang pengen, tapi Si Anu, tuh, yang nyalain TV! Nggak tahu apa, dia, kalo TV itu mudah bikin tertarik. Coba dia nggak nyalain TV, aku pasti nggak nonton TV, bisa tidur awal dan bangun awal! Tunggu dulu, aku nggak bakalan bisa tidur kalo nggak ngantuk. Kenapa aku nggak ngantuk? Oh, ya, aku tidur siang. Eh, tapi aku tidur siang gara-gara aku nggak ada kerjaan! Coba kalo aku dibiarin main, pasti aku nggak harus tidur siang! Eh, aku nggak dibolehin main, kan, gara-gara... Tunggu, nggak juga! Merekanya aja, beraninya kalo ada yang ngelindungin! Kalo sendirian, mereka nggak bakal berani! Coba pelindung mereka itu ada waktu aku udah bosen main! Tapi, keadaannya bakalan lain kalo aku... Wowowow, jangan salahin aku! Aku punya banyak kerjaan yang mesti aku selesain! Mereka itu juga yang jadi pengganggu, nggak ngebiarin aku nyelesain pekerjaanku!"
Hingga akhirnya kita sadar, dari semua gugatan kita, kita selalu menghindari gugatan yang kita tujukan kepada diri kita sendiri. Kita selalu mengalihkannya kepada hal yang lain, dan yang ada, pada akhirnya kita mengasihani diri kita sendiri, seolah-olah kitalah yang paling tidak bahagia di dunia ini. Kemudian, kita mengubah catatan gugatan kita:
"Ya, coba kalo aku nggak kebanyakan main-main, pasti pekerjaanku udah selesai semuanya. Aku bisa ngalah, dan mereka nggak butuh pelindung buat 'ngusir' aku. Nggak bakalan ada acara marah-marahan, aku jadi bisa nonton TV, tidur awal, dan nggak bangun kesiangan. Mungkin, kalo aku bisa ngatur waktu dengan baik, aku bahkan punya waktu tidur siang. Oke, ini semua emang salahku. Aku seharusnya bisa ngatur waktu. Di situ masalahku."
Maka, pada akhirnya kita menemukan sesuatu. Kita tidak bisa menyalahkan yang lain, karena pada akhirnya semuanya kembali pada kita. Semuanya tergantung pada kita. Jadi, ketika kita mau sedikit saja berani menyalahkan diri kita, kita dapat menemukan apa yang sebenarnya menjadi hambatan dari berhasilnya rencana-rencana kita. Kita dapat mencari cara untuk menyelesaikannya. Kita dapat mengubahnya.
"Pecundang adalah orang yang selalu menyalahkan orang lain."

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

Starting as 11 AM EST I will be streaming a live broadcast along with Mike Adams of NaturalNews and Dr. Edward Group live from the war room of the Monsanto Video Revolt a campaign to fight corporate tyranny and Monsanto. Update: The first portion of the livestream is now available to watch on demand via Youtube below: Join us at 11 AM EST live, ad-free, and...... read more http://goo.gl/7wPSTG

Comment is pending approval.

Comment is pending blog author's approval.
Cari
Kalender
« 09 | 2018/10 | 11 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 - - -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog