Lagi-lagi Soal Tanggung Jawab...

Sekali lagi Mimi mengatakan hal yang sama pada Lizi, "Bisa tanggung jawab nggak, sih!?"

Lizi memilih untuk diam saja. Sudah terlalu banyak hal yang memberatkan batinnya. Biasanya dia memang akan protes, apalagi untuk hal semacam itu, dan terkadang dia juga akan sampai menantang Mimi. Tapi kali ini, Lizi hanya menunjukkan ekspresi menyedihkan. Dia samping Mimi, Lizi merapatkan kepalanya ke dinding di belakangnya. Kakinya tertekuk di depan dadanya, dan dia memainkan kedua tangannya di antaranya. Selain bibirnya yang tampak semakin mengeruvut, alisnya yang bertaut dan tatapannya yang muram menunjukkan oerasaan hancur yang menyedihkan. Lizi jelas memendam rasa kesalnya. Dia ingat, Mimi pernah berkata, "Pecundang adalah orang yang melimpahkan kesalahan pada orang lain."

Mimi berhenti di situ. Dia telah mengutarakan semua hal yang Lizi ingin dia utarakan. Melirik dan sedikit menoleh, Mimi menemukan Lizi yang suram dan menyedihkan. Seakan-akan kalau dibuat kartun, tubuh Lizi mengeluarkan aura hitam yang membuat layu semua yang dilewatinya. Dia pun mendesah dan berkata, "Kamu yang pengen aku kasih tahu semua omongannya Didi tadi di sekolah."

Ada sejenak keheningan sebelum Lizi menyahut dengan dingin, "Kupikir nggak akan semenyakitkan itu. Aku cuma pengen fair, nerima kritik dari anggota tim yang lain. Tapi kalo kayak gini, rasanya aku pengen pergi ke dunia lain aja, deh!"

"Kalo boleh aku juga pengen," ujar Mimi datar.

"Ngaco!"

Mimi menatap Lizi. Tajam dan menusuk. "Udah tahu ngaco! Semua masalah harus dihadapi, tahu! Ngakunya kuat, cool, percaya diri... Tapi masa' omongan Didi yang segitu aja udah bikin down!"

Saat itu Lizi merasa ada gumpalan dalam dadanya. Padat dan mengganjal. Tapi dia tidak menangis. Dia hanya bisa menarik nafas dalam, seolah ketika dia menghembuskannya, gumpalan itu akan hilang. Tapi tentu saja, itu tidak serta merta berhasil. "Habisnya Didi, ngomongnya seolah aku yang paling salah, sih. Aku yang nggak becus, nggak responsible, nggak komitmen, nggak rajin, nggak cekatan... Kenapa dia nggak bilang langsung aja kalo ketemu? Dia pikir dia siapa? Aku juga punya kehidupan!"

"Didi juga punya kehidupan."

Lizi mendengua. Dia seharusnya marah dan memukul jauh Mimi saat itu juga, tetapi Mimi adalah orang yang buatnya tidak bisa menerima semua amarahnya. Mimi sudah terlalu baik. Mau bicara dengan Didi, mau menceritakan semuanya pada Lizi, dan bahkan mau menerima ocehan Lizi tanpa protes. Mengingat itu, Lizi hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa emang akunya yang nggak becus, ya? Aku ini siapa? Apa gunanya ada aku?"

"Pathetic."

Lizi menoleh.

Mimi menoleh. "Didi nggak cuma ngomong itu," ujarnya, tetap melanjutkan sekalipun Lizi mulai memindahkan tangannya ke telinga agar tidak bisa mendengarnya. Mimi tahu, Lizi tetap mendengarnya.

"Ya, tapi Lizi udah berjuang keras, kok!"

"Lizi nggak pernah protes, itu keren..."


Lizi melepaskan tangannya dari telinga.

"Oke, kita semua tahu dia nggak becus, tapi dia itu satu-satunya orang yang paling keras usahanya buat jadi becus. Aku hargai itu. Lucu aja, lihat dia gelagapan dan masang wajah serba salah gitu. Udah nggak kelihatan cool-nya, tapi itu menunjukkan ketulusan dan kerja kerasnya."

Lizi menghentikan Mimi di situ. "Didi ngomong gitu?"

Mimi mengangguk. Sekarang dia bisa tersenyum untuk menyemangati Lizi. "Dia ketawa habis itu. Katanya, beberapa kali dia pengen ngegodain kamu, jadi dia bikin seolah-olah kamu salah."

"Jahat banget!" protes Lizi, tapi dia tertawa. Bayangan wajah Didi yang selama ini protes dan memandangnya dingin, juga wajah Didi yang sedang tertawa jahil.

"Dia ada di pihakmu, kok. Katanya, dia juga pengen jadi orang yang lebih bertanggung jawab. Dia bilang, selama jadi satu kelompok sama kamu untuk proyek ini, dia jadi tahu kalau usahanya belum sekeras kamu, bahkan dia jadi sadar kalau dia itu males banget. Dia jadi semangat gara-gara kamu."

Kini Lizi tersenyum, senyum yang sungguh-sungguh dengan sedikit sapuan merah di pipinya karena tersipu.

"Makanya, jangan buru-buru pengen pergi ke dunia lain aja! Kamu masih dibutuhin. Kalo emang kamu nggak berguna, buat apa kamu lahir ke dunia? Ngerti?"

Lizi mengangguk sambil tersenyum. Dia tahu, Mimi memang sosok seorang kakak yang baik. Kini dia sadar bahwa ketika dia ditakdirkan untuk ada, maka dia juga ditakdirkan untuk melakukan sesuatu di dunia. Sesuatu yang berguna untuk orang lain. Dia telah ditakdirkan untuk dibuiuhkan. Dia telah ditakdirkan untuk becus dan bertanggung jawab.

***

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

Cari
Kalender
« 07 | 2018/08 | 09 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- - - 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog