Make A Little Refresh!

Sebelumnya, tolong jangan ganggu aku. Biarkan aku menikmati liburanku yang singkat dan langka ini. Aku sudah lama hidup di dunia yang... ah, kalian tidak akan mengerti! Bukan aku yang sebenarnya ingin menghancurkan segalanya. Aku juga akan menerima semua cahaya yang kalian tawarkan. Aku akan menerima semua senyuman. Aku juga akan memberikannya kalau kalian memintanya. Cahaya? Ini! Ambil semua cahayaku! Biarkan hanya aku dan bulan yang tahu bagaimana rasanya hanya menjadi seorang pemantul cahaya. Biarkan matahari dan bintang lainnya yang berbangga diri seolah paling berkuasa, padahal awan dapat dengan mudah mengaburkan keberadaan mereka.

Fiuuh.

I'm not a hypocrite. I'd never want to be. Tapi, di lingkungan yang kita tinggali ini, rasanya setiap orang munafik itu hidup bebas. Oke, munafik adalah kata yang kasar dan pasti akan dengan mudah disetir kembali untuk menghancurkanku.

Biarkan aku bicara.

Semua masalah ini nggak dimuali dari aku, kan? Bukan aku, kok. Aku mungkin emang troublemaker, tapi mana aku tahu kalo orang lain juga troublemaker? Yang perlu kalian tahu, bukan aku yang bikin mereka kayak gitu. Mereka punya jiwa yang sama, jiwa seorang pencari jati diri dan keadilan, yang sedikit liar sampai-sampai dianggap sebagai troublemaker.

"Hukum selalu ditegakkan, tetapi keadilan tidak."

Seorang mahasiswa fakultas hukum menuliskan itu di Facebook-nya. Apa poinnya? Dia bilang dia berusaha untuk adil, tapi dia tetap membuat perbedaan. Bukan orang lain. Semuanya adalah PERBUATANNYA. Aku nggak mau bilang. Semua orang tahu apa artinya ini.

"Kita sama di hadapan-Nya."

Adik kelasku tiba-tiba berjalan di dekatku dan mengatakan ini. Bukan karena aku. Aku nggak inget kenapa dia ngomongin itu. Kupikir itu lirik lagu, as dia suka nyanyi, tapi dia nggak merasa begitu juga. Sekali lagi tentang keadilan, yang sekarang sedang menjadi tema yang menarik seluruh fokus perasaanku.

Aku nggak tahu apa atau siapa yang salah. Aku nggak tahu apa atau siapa yang bisa disalahin. Mungkin semuanya salah. Mungkin, ibarat program, kita udah salah kode sejak awal. Bukan Allah. Dia nggak mungkin salah. Kode itu bikinan manusia, yang seenaknya pengen menghancurkan kode indah dari Allah.

Atau mungkin, ini semua karena perasaan sensitif yang terlalu berlebihan? Membuat apa yang lazim jadi terlihat nggak lazim, atau sebaliknya menjadikan yang tidak lazim jadi terlihat lazim.

Ini adalah tulisan yang udah ada di draft-ku sejak tanggal 24 Maret 2011. Beberapa harus diubah dengan keikhlasan, beberapa yang lain terpaksa dihilangkan, dan sedikit lainnya perlu ditambahkan. Kenapa? Agar aku bisa dianggap sebagai makhluk normal di bumi ini. Maaf. Terima kasih.

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

The Mainstream Media is now a major advocate for not-so-free speech except when they want to publish or post their truth on their front pages. Duck Dynasty Phil Robertson suspended indefinitely for gay quip No one has ever seen anything like it in American Mainstream Media(MSM)! A famous TV star voices his honest opinion, and he is ...... read more http://goo.gl/p4jT0Z

Comment is pending approval.

Comment is pending blog author's approval.
Cari
Kalender
« 07 | 2018/08 | 09 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- - - 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog