Selamat! Anda Terpilih!

The Accuser and the Accused

Lebaran tahun ini, seharusnya keluargaku mudik ke Jakarta. Nggak bisa serta-merta disebut "mudik," sih, sebenernya. Karena kalau "mudik" berarti "pulang kampung," maka yang berstatus mudik cuma Ummi. Sayangnya, tahun ini, karena satu dan lain hal, keluargaku nggak bisa ke Jakarta. Akhirnya, kami keliling Jawa Tengah, dari Sragen sampai Wonosobo, untuk mengunjungi keluarga yang ada di sana.

Dalam tulisan kali ini, aku mau memfokuskan pada sebuah kejadian waktu aku ada di Sragen. Aku sebenernya agak sedikit gimana gitu kalau mau cerita soal ini. Tapi, aku rasa aku harus mengungkapkan isi pikiranku di suatu tempat, dan blog adalah tempat yang cocok untuk tujuan itu.

Cerita ini bermula ketika di sebuah belahan dunia, muncul isu tentang terorisme yang menghasilkan phobia terhadap sebuah kepercayaan di berbagai belahan dunia yang lain. Disusul dengan keadaan politik nasional yang entah harus dinilai seperti apa. Dilanjutkan lagi dengan munculnya kasus intoleransi agama yang akhirnya menghembuskan konflik yang mengaitkan banyak hal lain. Jujur, kalau kata ini tidak tabu, aku akan mengatakannya keras-keras. LELAH!

Tapi apa yang terjadi di Sragen menghentakkan kata-kata itu, seperti palu hakim yang menetapkan sebuah hukum. Kata itu tiba-tiba menjadi tabu. Siapa pun yang mengatakannya akan langsung tampak lemah. Sulit untuk mengembalikan kredibilitasnya di mata manusia. Kalau aku adalah Power Ranger, Ben 10, atau sekadar pendekar Shaolin, aku hanya bisa mengharap perlindungan dalam menjalani takdirku.

Ada apa di Sragen? Aku nggak ketemu alien atau menemukan jam ajaib di hutan. Aku juga nggak menemukan batu bertuah ataupun berhasil mempelajari jurus rahasia seorang master Kung fu. Aku cuma bertemu dengan seorang manusia biasa. Tapi manusia biasa ini berhasil membuatku gagal tidur begitu aku mengingat kata-katanya.

Siang itu, selepas acara keluarga di Sragen yang cukup panas, para orangtua mengobrol di depan rumah. Ada Abi, Ummi, Om, Bulik, dan seorang Kyai. Kyai inilah yang memimpin doa dalam acara keluarga kami; sebuah doa permohonan akan perlindungan dari Allah agar semua yang hadir di situ senantiasa terlindung dari makar-makar jahat makhluk-Nya. Aku dan anak-anak muda yang juga hadir di sana sebenarnya cuma pengen nunggu orangtua kami aja, karena setelah dari Sragen, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat saudara yang lain.

Pembicaraan berlangsung seru; dari satu topik beralih ke topik lain. Aku cuma dengerin aja, nggak bener-bener menyimak. Terkadang pembicaraan orang dewasa itu sedikit membosankan, walau aku tahu aku juga seharusnya concerned dengan hal-hal yang para orangtua itu bicarakan. Sampai ketika pembicaraan sampai pada topik mengenai politik, Kyai ini mempertanyakan tentang hal-hal yang selama ini terjadi di Indonesia.

"Bagaimana keadaan sekarang ini?" Beliau menatap Abi. "Semuanya bermasalah," beliau beralih pada yang lain. "Harus ada yang melanjutkan perjuangan orang Islam di politik."

Kami tertawa. Sumbang.

"Ayo, siapa yang bisa jadi penerusnya?" Kyai itu menatap kami yang masih muda.

Kami tersenyum. Hambar. Politik bukan barang baru, dan sama sekali tidak tabu. Aku merasa ada sesuatu yang membuncah; entah apa. Perasaanku mengatakan ada sesuatu dalam pembicaraan ini. Sesuatu yang melibatkan aku, dan semua yang ada di situ.

"Kamu!"

Jari itu tertunjuk padaku. Aku.

Perjuangan.jpgWajar, aku kaget. Entah sudah aku duga sebelumnya atau belum, sesuatu yang membuncah itu merespon. Dia semakin membuncah. Aku nggak tahu harus bersikap seperti apa. Aku cuma bisa menatap beliau dengan senyum yang semakin hambar.

"Lho, iya! Harus ada yang berani!"

Aku pikir nggak ada yang sadar bahwa beliau menunjukku, dan keadaan itu membuatku merasa sedikit "aman." Tanpa diduga, tiba-tiba Om-ku berkata dengan nada menggoda, "Hayo, siapa tadi yang ditunjuk?"

Semua yang hadir tertawa. Aku ikut tertawa, tetapi memalingkan wajah. Sesuatu yang membuncah itu memberi respon yang semakin jelas, seolah-olah sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini akan dibawa.

"Lha, omongannya Kyai manjur, lho!"

Semua kembali tertawa. Aku juga, tapi tawaku nggak bisa serenyah mereka. Sesuatu itu masih terus membuncah dan merespon setiap hal yang berhubungan dengan hal ini. Aku mulai berpikir; beberapa hal yang akhir-akhir ini aku baca maupun dengar, kembali ke kepalaku. Entah mereka menyebutnya "tanda-tanda" atau "petunjuk," aku nggak bisa menilainya. Aku cuma sadar kalau aku belum merasa siap.

Terlebih, ketika tawa kami mereda, beliau menambahkan, "Orang Islam boleh membangun masjid, membangun pesantren... Tapi tidak boleh lupa juga politiknya."

Sekali lagi sesuatu itu membuncah. Aku tahu beliau benar. Aku tahu banyak orang peduli dengan masjid dan pesantren, tapi masih tidak begitu peduli dengan politik. Lebih banyak lagi orang yang peduli dengan politik, tapi lupa dengan pesantren. Beliau bicara soal keseimbangan. Politik oke; masjid dan pesantren oke. Kalau semuanya bisa seimbang, keberadaan orang Islam nggak akan jadi mainan. Sekarang, yang beliau bicarakan bukan "orang-orang," tapi kami. Lebih jauh lagi, jari itu sudah menunjukku,

Skak mat.

Aku inget, ada yang pernah bilang kalau ada tanda-tanda yang belum tampak sebagai tanda-tanda kalau belum ada buktinya. Aku, dan siapa pun yang hadir waktu itu, mungkin nggak akan ada yang percaya bahwa itu suatu tanda. Kebenarannya belum bisa dibuktikan sekarang. Tapi, entah benar atau salah, aku merasa bertanggung jawab.

Ketika kamu terpilih, akankah kamu bersyukur atau justru berharap semua itu tidak pernah terjadi?



Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

No Title

Hello! I'm at work surfing around your blog from my new apple iphone!
Just wanted to say I love reading your blog and look
forward to all your posts! Carry on the great work!

Comment is pending approval.

Comment is pending blog author's approval.
Cari
Kalender
« 09 | 2018/10 | 11 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 - - -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog