Kembali ke Peradaban

Sekarang tanggal 19 Agustus 2016. Dua hari yang lalu, Indonesia berulang tahun yang ke-71. Hari ini, obrolan mulai aktif di grup-grup kelas. Sembilan hari lagi, aku akan mulai sekolah lagi, insyaa Allah. Ternyata, liburan sudah akan resmi berakhir.

Liburan ini terasa jauh lebih lama daripada biasanya. Tapi, seperti Nanako dan Shouhei (nggak perlu tanya mereka siapa), ketika Nanako akhirnya harus melanjutkan pendidikannya di tempat yang jauh, Shouhei merasa kalau waktu mereka bersama itu sangat singkat, dan dalam hitungan hari mereka akan segera berpisah.

GX100350A.jpg

Buatku, akhir liburan berarti kembali ke dunia nyata, ke peradaban manusia yang sebenarnya, terlepas dari semua tarikan angan-angan dan fantasi yang disuguhkan oleh saat-saat santai, walaupun, sejujurnya, aku nggak pernah terlepas dari kehidupan nyata yang terus-menerus mengejarku, bahkan di saat liburan sekalipun. Ada kalanya, malah, aku ingin sekali saja terlepas dari dunia nyata, pergi ke tempat yang jauh di mana nggak ada yang kenal sama aku, terus berdiam di sana dan menikmati kesendirian dan ketenangan. Tapi, aku ingat kata-kata Boss (nggak perlu tanya juga orang ini siapa), "Kedengarannya memang asyik. Tapi, apa gunanya pergi tanpa tujuan sementara kau memiliki sesuatu dan orang-orang yang berharga untukmu? Jika ada yang berharga untukmu, pada akhirnya hatimu akan membawamu kembali. Lagipula, pergi tidak selalu menyelesaikan masalah." Setelah lama kupikir-pikir, Boss sepertinya memang benar.

Di pertengahan liburan ini aku juga sempat membandingkan diriku dengan tuan-tuan putri yang ada di dongeng-dongeng dan drama-drama itu. Bukan soal kehidupan mereka yang mewah, tapi soal kehidupan mereka yang dikekang oleh kemewahan. Segala aturan kerajaan yang mengikat membuat mereka tidak bisa mengekspresikan diri mereka dengan bebas. Bukan cuma tuan-tuan putri itu, ada juga cerita wanita-wanita di zaman sebelum ini yang dianggap sebagai "selain laki-laki." Mereka juga nggak bisa bebas mengekspresikan diri.

Aku bukan tuan putri, jadi nggak ada aturan kerajaan yang mengikatku. Aku juga hidup di zaman sekarang yang wanita-wanitanya bahkan nggak sadar sudah jadi manja karena kebebasan yang diberikan pada mereka, so I practically live in freedom. Tapi, saat itu, aku merasa tetap ada sesuatu yang menghalangiku untuk melihat dunia, menghalangiku untuk tahu segalanya, menghalangiku untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Ada sebuah penjara yang nggak kelihatan, yang menjebloskanku ke kegelapan yang aneh.

Eh, kedengerannya dramatis banget, ya? Ya, aku juga mikir gitu waktu nulis ini.

Setelah aku pikir-pikir, aku jadi sadar, kalau ternyata penjara itu adalah diriku sendiri. Aku, yang sudah diberi begitu banyak kebebasan, justru memutuskan untuk melepaskan diri. Aku justru menutup pintu kebebasan itu dan membiarkan diriku ada di dalam dinding semu. Aku pada dasarnya masih bebas, tapi aku justru mengekang diriku sendiri dan nggak menikmati kebebasan itu untuk sesuatu yang berharga. Itulah yang kemudian membuatku merasa nggak perlu tahu apa-apa. Itu yang membuatku jadi nggak peduli dengan apa pun yang terjadi.

Tanpa aku sadari, itu jadi sebuah penyakit. Ignorance. Apathy. Aku jadi nggak sadar akan keberadaan apa yang Boss bilang sebagai "sesuatu dan orang-orang yang aku hargai." Kalau mau dibikin lebih melankolis lagi, aku akan bilang kalau itu bikin aku tersesat, nggak tahu harus ke mana, bahkan mungkin lebih parah lagi: aku lupa asal dan tujuanku.

Ketika kenyataan mencoba mengejarku dan menarik-narikku, mungkin itu untuk mengingatkanku pada "sesuatu dan orang-orang yang aku hargai" itu, yang kemudian memberi petunjuk jalan pada hatiku untuk kembali pada mereka, mengingat lagi apa yang membuatku ada di sini dan ke mana aku harus pergi.

Aku seharusnya berterima kasih pada mereka.

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

Comment is pending approval.

Comment is pending blog author's approval.
Cari
Kalender
« 09 | 2018/10 | 11 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 - - -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog