Legenda Pendekar Rajawali

LOCHTitle: The Legend of the Condor Heroes (Condor Trilogy #1)
Category: Book
Genre: Fiction, Martial Art, Classical
Author: Jin Yong
Rating: ★★★★★

Sebelumnya aku harus minta maaf. Semenjak kematian Yang Kang, salah satu tokoh dalam buku ini, aku merasa nggak kuat menyelesaikan buku ini. Well, nggak serta-merta juga itu salahnya Yang Kang, sih. Kematian orang-orang sebelum Yang Kang juga memberikan perasaan yang sama. Selain itu, aku juga tiba-tiba dihadapkan pada banyak halangan dan rintangan untuk bisa menyelesaikan buku ini, jadi kupikir, sampai semuanya kembali normal, aku pasti akan menyelesaikan membaca buku ini. Masih ada banyak hal di dalam pikiranku yang belum terpuaskan.

Selanjutnya, aku harus bilang kalau buku ini adalah sebuah sarana yang membawaku bernostalgia ke masa kecilku dulu. Aku nggak tahu kenapa temen-temenku, siapa pun itu, sewaktu aku tanyakan soal buku ini, yang dulu ada serialnya di TV, nggak pernah ada yang merasa inget sama sekali. Hmm, mungkin aku dulu memang hidup di dunia yang berbeda dari anak kebanyakan? Bisa jadi.

Ini adalah sebuah novel fiksi beladiri yang menceritakan tentang petualangan Guo Jing. Bukan hanya itu, buku ini bahkan juga bercerita tentang kisah sebelum Guo Jing lahir, kisah yang melatarbelakangi banyak kejadian dalam hidup Guo Jing. Aku nggak tahu apakah aku bisa merangkum kisah di dalam empat volume buku ini ke dalam satu paragraf. Haha. Intinya, buku ini menceritakan bagaimana Guo Jing bertemu dengan berbagai macam manusia setelah sebelumnya tinggal sebagai seorang anak yang sangat lugu di Mongolia. Pertemuan-pertemuan itu memberikan banyak pelajaran bagi Guo Jing. Selain ilmu beladiri (yeah, of course!), Guo Jing juga belajar tentang arti perjuangan, pengorbanan, kemanusiaan, dan juga cinta. Ah, yang terakhir itu jadi bumbu manis dalam drama kehidupan Guo Jing...

Seperti yang aku bilang di Goodreads, kehidupan Guo Jing persis kayak RPG. Dilihat dari sisi petualangannya, bisa dibilang Jin Yong menyuguhkan banyak sekali kejutan yang sulit diduga. Oke, namanya juga kejutan. Tapi, ada kalanya, dalam sebuah novel, pembaca bisa menebak isi kejutan yang disiapkan oleh penulisnya. Itu jarang sekali terjadi di buku ini. Buku ini benar-benar membuat pembacanya merasa ragu untuk berhenti membaca, kecuali keadaan sangat memaksa. Alur ceritanya mungkin terkesan sangat lambat bagi beberapa orang, tapi menurutku, kesabaran membaca alur ceritanya seimbang dengan kejutan-kejutan yang menanti setelahnya. Persis kayak nonton sinetron, deh. Haha. Belum lagi adegan-adegan beladirinya. Membacanya dan membayangkannya sudah persis seperti nonton film aksi di TV!

Begitu Guo Jing bertemu dengan beberapa gadis yang seolah memperebutkannya (okay, that is really happening), drama dalam buku ini terasa semakin kental di beberapa bagian, terutama di volume kedua. Drama inilah yang kemudian memperkenalkan pembaca pada Yang Kang dan Mu Nianci, pasangan yang bisa dibilang sedikit dysfunctional tapi tetap saja membuat pembaca kaum hawa menunggu-nunggu kelanjutannya. Aku seharusnya nggak bilang, ya, kalau Yang Kang akan mati di bagian akhir buku ini, tapi kenyataan itu memang harus bisa diterima. Jujur saja, emosi antara Yang Kang dan Mu Nianci terasa lebih kuat daripada Guo Jing dan istri masa depannya, Huang Rong. Mungkin karena Guo Jing sama Huang Rong sama-sama polos kali, ya, jadi bawaannya yang baca itu ngerasa kalau mereka berdua itu masih kayak puppy love gitu. Haha.

Jin Yong sangat mahir membuat setiap karakter jadi berasa hidup beneran. Aku sudah pernah bilang ini dan aku akan bilang lagi: selama membaca buku ini, aku bisa tersenyum dan tertawa bersama Guo Jing dan Huang Rong. Bahkan kematian tokoh-tokoh favoritku juga bikin aku sedih dan nggak enak hati. Mereka semua bikin aku berasa jadi pengen bikin fanfiction atau semacamnya gitu, di mana semua tokoh favoritku tetap hidup dan menjalani hidup bahagia.

Mungkin kalau ditanya apa kesan kurang menyenangkan selama membaca buku ini, aku akan bilang kalau aku hampir nggak punya kesan yang nggak menyenangkan. Mungkin "musuh" Mongolia berikutnya bikin aku agak nggak nyaman, tapi aku nggak akan menyalahkan siapa-siapa di sini. Mungkin juga versi bahasa Inggris yang aku dapatkan di internet, karena diterjemahkan sama banyak orang, terkesan nggak konsisten dalam segi penamaan istilah atau semacamnya, tapi aku juga nggak bisa menyalahkan penerjemahnya. Jujur saja aku malah menikmati perbedaan-perbedaan terjemahan itu. Haha. Mungkin, satu-satunya yang jadi masalah adalah aku yang terkadang jadi terlalu emosional kalau sudah terikat pada sesuatu secara kuat.

Oke, mungkin itu artinya aku harus segera menyelesaikan membaca buku ini, biar aku bisa move on. Mungkin nggak sekarang dan nggak dalam waktu dekat, tapi aku memang berniat untuk menyelesaikannya. Tapi, ya, aku tahu, masih ada buku kedua dan ketiga. Sepertinya dalam kasus ini, move on akan jadi tantangan yang cukup berat.

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

Cari
Kalender
« 07 | 2018/08 | 09 »
Su M Tu W Th Fr Sa
- - - 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog