Memahami realita tanpa kata

O Menino e o MundoTitle: Boy and the World / O Menino e o Mundo (2014)
Category: Movie
Genre: Animation, Adventure, Family
DIrector: Alê Abreu
Rating: ★★★★★

Sudah lama sepertinya aku nggak nulis tentang film yang aku tonton. Mungkin karena rutinitasku yang nggak memberiku izin untuk nonton film, ya. Tetapi, beberapa pekan yang lalu, ketika rutinitasku terganggu oleh liburan singkat di Semarang (yang sama sekali tidak aku sesali), aku pun akhirnya menonton film yang sudah lama mendekam di laptopku. Ada dua film yang aku tonton bareng adik-adikku, dan kedua-duanya sangat mengesankan, tapi kayaknya yang satu ini lebih memorable, jadi aku akan nulis tentang film ini aja.

Dulu aku tahu informasi tentang film ini dari sebuah channel Jepang di YouTube. Aku nggak bener-bener paham waktu lihat trailer-nya, apalagi deskripsi dan komentar-komentarnya pakai bahasa Jepang semua. Tapi, aku langsung terpikat dengan animasi yang imut dan cantik, dan seketika itulah aku langsung memasukkan film ini ke dalam to-watch list-ku.

Oleh karena itu, maklum saja ketika pertama kali nonton, aku sama sekali nggak ngerti apa-apa tentang film ini. Biasanya kan karena udah baca-baca informasi dan sedikit spoiler tentang sebuah film, aku bisa rada bragging ke adik-adik tentang apa yang aku tahu. Tapi kali ini berbeda. Aku sama sekali nggak tahu apa-apa. Jadi, semua ekspresi dan komentar yang aku tunjukkan dan utarakan benar-benar merupakan reaksi yang pertama kali muncul, bukan lanjutan.

Secara umum, Boy and the World menceritakan tentang seorang anak laki-laki kecil yang tinggal di daerah terpencil bersama dengan kedua orangtuanya. Suatu hari, ayah si bocah ini pergi untuk mencari pekerjaan di kota. Tidak ingin berpisah dengan ayahnya, anak ini pun langsung menyusul untuk mencarinya. Kemudian, dimulailah petualangan anak laki-laki ini di dunia yang baru, yang sama sekali berbeda dengan dunia kecilnya yang damai dan bersahabat.

Sudah pasti, kesan pertama yang muncul ketika nonton film ini adalah mengenai animasi yang sangat imut. Warna-warni cantik dan gambar-gambar yang seolah dibikin pakai crayon atau kayak kolase sepertinya akan jadi daya tarik tersendiri, terutama buat anak-anak. Bisa dibilang, gaya animasi macam begini adalah representasi yang sangat menakjubkan dari sudut pandang anak-anak dalam melihat dunia: penuh warna, tetapi juga rumit.

Waktu download film ini, aku sudah sekalian download subtitle bahasa Inggrisnya, soalnya aku tahu itu film Brazil. Tapi, siapa sangka, setelah bermenit-menit filmnya berlangsung, subtitle-nya cuma ngasih penjelasan efek suara, dan kalaupun ada percakapan yang terjadi, di subtitle-nya cuma ada tulisan: [talking in foreign language.] Di tengah-tengah film, aku mulai yakin kalau sebenernya film itu nggak butuh subtitle, tapi adikku tetep percaya kalau mungkin aja bakalan ada bagian yang bakalan bener-bener subtitle.

Ternyata dugaankulah yang bener. Sampai akhir, nggak ada percakapan yang comprehensible sama sekali. Setelah aku telusuri lebih jauh, ternyata memang bukan verbal yang ditonjolkan oleh film ini, melainkan pesan yang disampaikan melalui berbagai gambar dan warna. Lebih jauh lagi, ternyata semua gibberish talk yang ada di film ini adalah inverted Portuguese, yang sudah pernah aku jelaskan sedikit di postingan sebelumnya. Bahkan, kalau dilihat dari video-video proses pembuatan film ini di YouTube, ternyata semua efek suaranya pun nggak kayak biasanya. Alih-alih pakai rekaman suara asli (misalnya rekaman suara kereta api buat ngasih efek suara waktu ada kereta lewat), efek suara di film ini dibikin manual, kayak pakai tangan, kaki, mulut, dan alat-alat sederhana lainnya!

Ada dua poin dari fakta-fakta di atas yang menimbulkan kesan yang sangat mendalam buatku. Pertama, kupikir baik orang dewasa maupun anak-anak bisa memahami maksud film ini. Buat anak-anak, film yang nggak pakai percakapan ini bukan hanya bisa menghibur, tetapi juga bisa mengajak mereka belajar mengenal dunia dengan cara yang sangat menyenangkan. Di samping itu, buat orang dewasa, nonton film ini mungkin berasa kayak nonton BabyTV atau DuckTV dengan cerita yang levelnya lebih tinggi. Pelajaran yang dimunculkan bukan hanya konsep tentang bentuk, warna, dan not-not musik, tetapi juga tentang topik-topik yang deket dengan orang dewasa, kayak ekonomi, sosial, budaya, sampai politik. Menurutku, film macam begini bisa menumbuhkan sensitivitas terhadap hal-hal yang ada di sekitar manusia, nggak cuma buat anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Kedua, ide tentang penggunaan inverted Protuguese dan efek suara manual adalah sebuah ide yang sangat brilian buatku. Bisa jadi ini adalah opini pribadiku, karena aku punya minat dalam bidang bahasa, tapi sepertinya film dengan konsep penggunaan verbal macam begini jarang banget muncul. Film ini seolah-olah pengen membuat dunia berwarna-warni itu jauh, tetapi sebenernya nggak jauh berbeda dengan dunia yang kita tinggali. Atau, kalau dilihat dari sudut pandang anak-anak, mungkin itu adalah representasi dari apa yang anak-anak dengarkan ketika orang dewasa lagi ngobrol. Nggak jelas dan rumit, tetapi anak-anak bisa paham apa yang dibicarakan hanya dengan melihat ekspresi dan gerak tubuh mereka. Selain itu, efek suara yang manual juga sepertinya merupakan gambaran mengenai sesuatu yang sederhana dan murni, sesuatu yang natural, yang menunjukkan bahwa manusia nggak bisa lepas dari alam.

Hal berikutnya yang menbuatku nggak bisa melepaskan pikiran tentang film ini untuk waktu yang lama adalah musik yang dimainkan di sepanjang film. Nadanya bener-bener kayak lagu rakyat, lembut tetapi nggak lemah. Waktu denger itu, aku jadi inget klotekan di video klipnya The Script yang judulnya "Superheroes." Seolah-olah, musik itu sendiri pun sudah mengandung pesan yang sangat mendalam tentang kehidupan. Ketika aku nyari informasi lebih lanjut tentang lagu dari musik itu (yang dinyanyikan dalam inverted Portuguese), ternyata memang ada pesan yang spesial di dalamnya, yaitu tentang kebahagiaan. Salah satu topik general dalam kehidupan manusia, nggak peduli berapa pun umurnya.

Terakhir, bagian akhir dari film ini bener-bener mengejutkan. Adikku bilang itu kayak time paradox, tapi siapa yang tahu? Mungkin si menino memang cuma diperlihatkan secuil kehidupan yang akan dia alami di masa yang akan datang. Anyway, semua hal ini nggak akan bener-bener kerasa kalau film ini nggak ditonton secara langsung. Film ini tentu asyik kalau ditonton sendirian, tapi tentu saja akan lebih berkesan kalau film ini ditonton bareng-bareng satu keluarga, karena sepertinya ada kehangatan yang disalurkan oleh film ini, yang bahkan tanpa kata-kata pun dapat dirasakan oleh semua orang yang menontonnya.

Topic : Same Planet, Different World
Genre : Diary

Post a comment

Private comment

Cari
Kalender
« 09 | 2017/10 | 11 »
Su M Tu W Th Fr Sa
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 - - - -
Tentang Diriku

bilabaik
bilabaik


Kita hidup di bumi ini
Hari ini, esok, dan seterusnya
Masa depan sangat panjang; kota impian
Mari coba satu-satu kita wujudkan


[Doraemon OST - Bokutachi Chikyuujin]

Jadikan Teman

Jadilah teman user ini.

Tautan Saya
Buku
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists
Tautkan Ke Saya


RSS
Powered by FC2 BLOG

Let's start blogging!!

Powered by FC2 Blog